Jumat, 09 April 2010

Memelototi Langit Menguping Alien


Negara maju terus berlomba menjajaki keluasan semesta. Misteri jagat raya pun perlahan tersibak satu per satu. Diam-diam, isyarat cerdas dari makhluk luar angkasa telah tertangkap.

PADA 1 Agustus 2002, Badan Ruang Angkasa Kanada (CSA) mengumumkan bakal meluncurkan teleskop ruang angkasa pada April 2003. Teleskop MOST --Microvariability and Oscillations of STars-- ini dirancang untuk mengamati secara superteliti cahaya bintang, untuk menaksir usia jagat raya, yang konon berumur 12 milyar tahun. Dengan alat itu, para ilmuwan juga dapat melacak atmosfer planet-planet di luar tata surya.

"Ini menunjukkan kemajuan Kanada dalam inovasi, dan kepeloporan," kata Glen Campbell, Manajer Divisi Ruang Angkasa dan Kehidupan. MOST merupakan teleskop ruang angkasa termungil, karena hanya berukuran panjang dan lebar 65 sentimeter (cm), tebal 30 cm, dan bobotnya 60 kilogram. "Negara lain bakal melakukan hal yang sama, tapi Kanada yang pertama," kata Campbell.

Coba bandingkan dengan teleskop ruang angkasa Hubble, milik Badan Antariksa Amerika (NASA), yang diluncurkan pada April 1990. Tinggi teleskop itu 45 kaki, setara dengan gedung empat tingkat. Beratnya 12,5 ton. Ukuran mungil itu juga menghemat duit yang mesti dirogoh dari kocek CSA. Mereka cukup mengalokasikan dana Can$ 10 juta, setara dengan Rp 56 milyar. Jauh lebih irit dari pengeluaran NASA untuk proyek Hubble, yang mencapai US$ 2 milyar, atau Rp 20 trilyun.

CSA bekerja sama dengan Dynacon Enterprise Limited, Universitas Toronto, dan Universitas of British Columbia untuk menggarap proyek ini. Peralatan ini akan diluncurkan dari Plesetsk, Rusia, dengan roket penggendong Rockot. Selama di angkasa, MOST ditargetkan memelototi 26 bintang yang mirip matahari, seperti Epsilon Eridani dan Tau Ceti. Juga menaksir kandungan logam bintang penghuni galaksi cebol.

Ia juga akan mengamati planet-planet di luar tata surya penghuni rasi Boundaries, 70 Virgo, 55 Cancri, dan lain-lain. Di 55 Cancri, beberapa waktu lalu, astronom menemukan planet mirip Jupiter, baik bobot maupun jaraknya dari bintang induk. MOST secara khusus akan mengeksplorasi bintang di rasi Srigala.

Langkah Kanada ini sekaligus menggambarkan kesinambungan perlombaan menjelajah angkasa luar. Di era Perang Dingin, teropong angkasa itu banyak diarahkan ke bumi guna mengintip kekuatan lawan. Kini, mereka mengarahkannya ke luar bumi, atau angkasa luar, untuk menjajaki kemungkinan menemukan kehidupan di planet lain.

Diampuni Setelah 357 Tahun

SEJAK teleskop ditemukan Galileo Galilei (1564-1542) pada abad ke-17, nafsu manusia menjajaki kedalamanan kolong langit tak pernah luntur. Tapi, perkara siapa penemu teleskop masih menjadi perdebatan. Galileo dianggap hanya membaca jurnal tentang prinsip kerja teleskop, dan dengan brilyannya berhasil "menjiplak" alat pengintip langit itu.

Pengadilan Galileo Galilei
Dengan alat sederhananya, dia mengukuhkan teori Copernicus, tentang matahari sebagai pusat semesta. Gereja, yang mendukung teori bumi sebagai pusat, yaitu gagasan Aristoteles yang diperkukuh secara ilmiah oleh Claudius Ptolomeus, dibuat meradang.

Galileo dituduh murtad, dan dijatuhi hukuman seumur hidup pada 1635. Sambil bersujud memohon ampun, konon dia berbisik, "Bagaimanapun, ia toh tetap bergerak juga." Yang dimaksud Galileo adalah Dewi Gaia, atau bumi tempatnya berpijak. Galileo baru diampuni pada 1992, alias 357 tahun kemudian, oleh Paus Yohanes Paulus II.

Dalam bukunya, Il Sagiatore (Sang Pemanah), Galileo memang tidak pernah menyebut dirinya penemu teleskop. Bahkan dia memuji habis penemu kaca pembesar, Lippershey. Galileo mengaku, begitu mendengar temuan itu, dia mencoba menciptakan alat berdasar uraian prinsip kerja dan efek yang timbul dari lensa temuan Lippershey.

Pertama kali dia berhasil menciptakan teleskop dengan perbesaran delapan kali, kemudian terus meningkat menjadi 20 kali. Dia terus mengasah lensa itu, terakhir berhasil melihat objek dengan perbesaran 30 kali. Mengacu pada uraian Galileo tersebut, banyak yang mempercayai, teleskop ditemukan Hans Lippershey (1570-1619) dari Belanda.

Ketika itu, dia memperhatikan dua bocah yang bermain dengan dua lensa. Si buyung menggunakan lensa itu untuk melihat baling-baling cuaca yang jaraknya jauh. Eh... objek itu tampak dekat, besar, dan jelas. Lippershey mencoba membuat alat berdasar keajaiban yang dia amati itu. Dia menyusun dua lensa pada sebuah tabung, yang merupakan teleskop pertama. Pada 1608, dia mematenkan penemuannya pada Pemerintah Belgia, dengan nama kijker atau looker.

Lensa Baji dan Gabungan Pelangi

TELESKOP yang digunakan pada zaman Galileo disebut teleskop pembias. Menggunakan dua lensa, terletak di kepala teropong dan di pantat. Keduanya lensa cembung, yang bersifat mengumpulkan cahaya, atau memperbesar objek. Teleskop pembias terbesar terdapat di Observatorium Yerkes, di Teluk Wiliams, Wisconsin, karya astronom Amerika, Elerry Hale (1868-1938).

Teleskop itu menggunakan lensa selebar satu meter, dengan tabung setinggi 19 meter. Ia ditempatkan dalam kubah logam yang bisa membuka dan menutup. Sir Isaac Newton (1642-1727) dengan lensa berbentuk baji atau prisma menunjukkan bahwa cahaya putih merupakan gabungan warna pelangi. Sifat cahaya seperti itu telah mengaburkan pengamatan, karena warna biru terfokus lebih dekat daripada merah.

Akibatnya, warna merah teramati dengan tajam, sedangkan warna biru kabur. Itulah kelemahan mendasar teleskop generasi pertama tersebut. Untuk menutupi kelemahan ini, satu-satunya jalan ialah menjauhkan jarak kedua lensa. Lahirlah teleskop udara yang menempatkan lensa utama jauh dari lensa kedua.

Jarak yang jauh ini membuat teleskop itu tidak menggunakan tabung. Johannes Hevelius (1611-1687) menggunakan teleskop model ini untuk memetakan bulan. Lensa utama diletakkan dengan penyangga setinggi 45 meter --setara dengan gedung 12 tingkat-- dari lensa kedua.  Christian Huygens (1629-1695) menggunakan model serupa untuk mengamati cincin Saturnus.

Dia menggunakan teleskop udara dengan jarak lensa sejauh 63 meter. Dia membuktikan bahwa cincin Saturnus benar-benar ada, dan bukan efek kabut lensa yang salah fokus. Tapi, teleskop model itu tentunya sangat canggung. Newton menolak menggunakan model itu. Untuk mengoreksi kesalahan cahaya --lazim disebut pelanturan kromatis-- dia menggunakan cermin cekung untuk mengumpulkan cahaya objek.

Dengan menggunakan cermin cekung itu, distorsi cahaya terkoreksi dengan apik. Pada zaman modern, untuk mencegah cahaya menerobos cermin, digunakan logam halus --aluminium-- untuk melapisi pantat cermin. Teleskop asli ciptaan Newton menggunakan cermin datar untuk mengarahkan objek ke mata pengamat. Semula orang mengira, itu akan mengaburkan hasil pengamatan, tapi nyatanya hanya memudarkan sedikit.

Mengerok Lima Ton Kaca

WALAUPUN teleskop pembias mencatat berbagai prestasi, seperti memetakan bulan, membuktikan cincin Saturnus, orang lebih tertarik pada teleskop cermin yang praktis. Pada 1845, William Parson, atau Pangeran Rosse III dari Inggris, selesai membuat teleskop cermin dengan cermin 1,8 meter, dan menanamnya dalam tabung logam sepanjang 18 meter. Teleskop ini dibangun dekat Puri Birr di Irlandia.

Penduduk sekitar menyebutnya "Raksasa Parsontown". Prestasi yang dicatat teleskop terbesar abad ke-19 itu ialah menemukan galaksi spiral. Semua teleskop modern menggunakan prinsip teleskop cermin. Dalam jajaran pencipta teleskop, kita tidak bisa melupakan begitu saja Ellery Hale. Astronom kelahiran Chicago, Amerika Serikat, 29 Juni 1868 itu, di samping berhasil menggarap teleskop Yerkes, juga mengerjakan teleskop Gunung Wilson dengan cermin selebar dua setengah meter.

Yang paling monumental adalah teleskop raksasa di Gunung Palomar, California, Amerika, dengan cermin selebar lima meter. Hale mulai menggarap proyek besar itu pada 1928, mulai dari mengumpulkan dana untuk membiayai perancangan. Tapi, proyek ini tidak berjalan mulus: cetakannya pecah ketika cairan kaca dituangkan ke dalamnya. Proyek pun terancam batal. Namun, Hale tidak putus asa.

Hingga 1934, berhasil dibuat cetakan kaca Pyrex bergaris tengah lima meter. Untuk mendapat hasil sempurna, mereka tidak gegabah menangani kaca panas itu. Pendinginannya harus dilakukan perlahan-lahan, dan memerlukan waktu setahun. Setelah adem, gelas berbobot 20 ton itu dikirim ke Pasadena dengan gerbong terbuka, untuk dicekungkan.

Pengasahan dan penghalusannya tidak kalah rumit, dan superhati-hati, sehingga memerlukan waktu sampai 11 tahun. Di tengah penanganan proyek besar ini, Hale meninggal pada 21 Februari 1938. Proyek dilanjutkan Ira Sprague Bowen --biasa dipanggil Ike-- Direktur Observatorium Gunung Wilson dan Palomar. Pria kelahiran 21 Desember 1898 ini dikenal pemalu, namun berkemauan keras mengelarkan proyek itu.

Pengasahan cermin pun dilanjutkan. Bahan pengampelas yang digunakan sebanyak 30 ton, sedangkan kaca yang dikikis mencapai lima ton. Ike menyelesaikan proyek itu pada 1948, di tengah kecaman para astronom yang tak sabar "mengantongi" bintang-bintang. Mereka menilai kerja Ike sangat lambat. Untuk menghargai jasa Hale, nama Observatorium Gunung Palomar, pada 1964, diubah menjadi Observatorium Hale. Sedangkan Ike kebagian penghargaan Medali Bruce --"Nobel"-nya para astronom-- pada 1957. Medali yang sama diterima Hale pada 1916.

Galaksi yang Berlari

SEJAK itu, perkembangan teleskop maju pesat. Pemerintah Uni Soviet --pesaing Amerika pada Perang Dingin-- tidak mau kalah. Mereka membikin teleskop terbesar untuk menyaingi Observatorium Hale, di Zelenchukskaya, Rusia, dengan cermin selebar 5,90 meter. Walaupun ditandingi, kemashyuran teleskop Hale di Gunung Palomar tak pernah pudar.

Makin canggih teleskop, kian terbuka mata astronom bahwa langit itu mahaluas. Pada zaman Copernicus, alam semesta berkutat di seputar tata surya dengan matahari sebagai pusat. Sistem matahari itu dilingkupi mangkuk langit, dengan bintang-bintang yang menempel di permukaannya. Dengan teleskop yang lebih tajam, astronom abad ke-19 hingga awal abad ke-20 terbuka matanya, hingga meliputi galaksi Bima Sakti.

Adalah Edwin Hubble (1889-1953), ilmuwan Amerika Serikat, yang menemukan semesta dipenuhi galaksi. Ke mana pun Hubble memandang, ternyata galaksi-galaksi itu berlari menjauhi Bima Sakti. Ini terlihat dari warna cahayanya yang makin merah --jika mendekat makin biru. Maka, lahirlah pandangan bahwa dulu mereka padu, kemudian meledak.

Edwin Powell Hubble

Lahirlah teori Ledakan Besar atau "Big Bang", yang mengawali terciptanya alam semesta. Pengamatan astronom itu makin terbantu dengan ditemukannya pelat foto untuk merekam gambar bintang-bintang. Teleskop rancangan Bernhard Schmidt (1879-1935), astronom Observatorium Hamburg, ini menggabungkan cermin sferis (bola) dengan lensa ralat, menjadi kamera raksasa dengan jangkauan objek area luas. Model Schmidt itu hingga sekarang digunakan di Observatorium Boscha, Bandung, Jawa Barat.

Teleskop ini dilengkapi prisma pembias, untuk mendapatkan spektrum bintang. Kelemahan teleskop ini, pantulannya bukan berupa bidang datar, melainkan melengkung sesuai dengan permukaan bola. Pembiasan warna bintang menjadi warna pelangi --akibat beda panjang gelombang-- sangat penting untuk mengkaji kandungan kimia atmosfer suatu bintang.

Pada hakikatnya, unsur pijar yang terdapat di bintang menyerap energi pada panjang gelombang yang telah pasti. Pembiasan warna-warni bintang itu pertama kali diteliti Joseph von Fraunhofer, ahli optik bangsa Jerman. Namun, dia tidak tahu arti bias pelangi itu. Barulah pada 1871, Sir Joseph Norman Lockyer, astronom Inggris, menemukan unsur baru yang disebut "unsur matahari", atawa helium, berdasarkan penguraian cahaya putih sang surya.

Melacak Desah Langit

DARI bias cahaya itu, di samping kandungan unsur, juga bisa ditaksir suhu permukaan bintang. Sebab, dengan mengetahui unsur-unsur penyusunnya, dapat diketahui pula pada suhu berapa unsur tersebut bertahan. Untuk bintang bersuhu tinggi, kandungan unsurnya makin miskin. Bintang yang tergolong miskin adalah Vega, dengan suhu 11.100°C. Sedangkan Arcturus, yang lebih kaya, hanya bersuhu 3.780°C.

Satu informasi lagi yang bisa diperoleh ialah kelajuan bintang, atau galaksi, mendekati atau menjauhi bumi, seperti dilansir Hubble. Bintang yang mendekati bumi akan makin biru, sedangkan yang menjauh akan makin merah. Berdasarkan kerapatan spektrumnya, juga dapat diketahui kecepatan bintang yang bisa mencapai 120 kilometer per detik. Kini, manusia belum puas hanya dengan menempatkan teleskop di bumi. Mereka berlomba-lomba menempatkan teleskop di langit, sehingga tidak terganggu atmosfer (baca: Diganjal Panah Malaikat).

Teleskop optik memang sering terbentur halangan berupa mendung, lampu kota, juga debu antarbintang. Para ilmuwan berusaha menemukan peranti yang bisa melacak objek langit dengan teleskop radio. Peranti itu menangkap gelombang radio (elektromagnetik), yang dipancarkan bintang dan galaksi ketika berotasi. Karl Jansky (1905-1950), dari Laboratorium Bell Telephone, merupakan orang pertama yang menekuni menangkap siaran benda langit ini pada 1928.

Dia melansir temuan desahan langit ini pada 1933. Grote Reber, dari pabrik Radio di Chicago, tertarik pada laporan itu. Dia menggunakan antena parabola bergaris tengah 10 meter, untuk menguping desau angkasa luar. Sejak itu, teleskop radio berkembang pesat. Telinga-telinga raksasa pun dibangun, seperti di Effelsberg dekat Bonn, Jerman, dengan diameter 100 meter. Saingannya di Jordrell Bank, dekat Manchester, Inggris, berukuran 75 meter. Kemudian di Green Bank, Virginia Barat, Amerika, dengan diameter 100 meter.

Yang paling memukau adalah teleskop raksasa di Aricebo, Puerto Rico, yang selesai dibangun pada 1963. Garis tengah teleskop yang meringkuk dalam lekukan alam itu 305 meter, dengan penampang aluminium seluas 7,7 hektare. Jangkauannya luar biasa jauh, yaitu 16 milyar trilyun kilometer. Telinga raksasa ini mampu mendeteksi galaksi dan bintang-bintang yang tersembunyi di balik kabut antarbintang sekalipun.

Telinga raksasa itu juga digunakan melacak kehidupan cerdas di pedalaman Bima Sakti. Adalah Frank Drake yang menggagas untuk menangkap sapa cerdas sinyal radio dari makhluk bintang lain. Ilmuwan Universitas Cornell itu menciptakan persamaan Drake guna menghitung peradaban cerdas di jagat raya. Dia dan dua asistennya meluncurkan proyek Ozma, 8 April 1960. Dia menggunakan teleskop berdiameter 85 kaki, dengan mengarahkannya ke bintang Tau Ceti.

Makhluk Cerdas di Kedalaman Bima Sakti

FRANK Dale mencoba menangkap pembicaraan radio makhluk cerdas daerah itu. Hasilnya: sepi! Lima menit kemudian, mereka menggeser "telinga" teleskop ke Epsilon Eridani. Tiba-tiba terdengar suara berisik. Mereka melakukan tes sederhana dengan menggeser teleskop. Ribut-ribut itu lenyap. Ketika kembali ke arah semula, suasana telah berubah sepi.

Jerry Ehman

Semingu kemudian, suara ribut itu kembali tertangkap. Kesimpulannya, suara itu dari pesawat terbang yang melintas di muka teleskop. Proyek pencarian makhluk cerdas itu hanya berumur 200 jam, karena kehabisan duit. Walaupun bubar, mereka mengilhami ilmuwan lain. Pada 15 Agustus 1977, Jerry Ehman, guru besar astronomi Universitas Franklin, melalui Obsevatorium Big Ear, Ohio, menandai sinyal sapaan dari langit.

Ehman melingkari bagian gelombang aneh yang tercetak lewat print out komputer. Dia menuliskan kata "Wow!" Mereka berkali-kali mengobservasi sinyal yang 30 kali lebih kuat dari gelombang latarnya. Sinyal dari rasi Sagitarius itu timbul tenggelam, dan hilang. Banyak spekulasi, sinyal itu sebenarnya sapaan "Hai!" dari alien. Sayangnya, mereka tidak mau mengulangi.

Proyek semacam itu sekarang bergabung dalam Search for Extra-Terrestrial Intelligence (SETI), yang didirikan Frank Drake. Australia resmi bergabung pada Januari 1998. "Negeri kanguru" ini meluncurkan program Southern SERENDIP, untuk menangkap sinyal makhluk cerdas yang jatuh di belahan langit selatan. Program ini menargetkan penelisikan 72 juta aliran gelombang radio.

Jauh sebelum bergabung dengan SETI, teleskop yang berpangkalan di kawasan Parkes, Australia, itu telah merekam isyarat langit, pada 9 Mei 1990. Penerimaan tidak sengaja ini diduga berasal dari makhluk cerdas di kedalaman Bima Sakti. Getolnya para ilmuwan itu menggugah Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk nimbrung dalam proyek tersebut. Dalam pertemuan Perserikatan Astonom Internasional di Manchester, Inggris, Agustus 2000, diteken perjanjian untuk membangun teleskop raksasa.

Peranti bernama Square Kilometre Array ini mampu mendeteksi dengan cermat sejuta bintang dengan kedalaman 1.000 tahun cahaya, atau 10.000 trilyun kilometer. Proyek seharga 800 juta poundsterling ini direncanakan selesai pada 2015. Proyek ini diharapkan bisa menangkap sapa cerdas dunia jauh, di lorong Bima Sakti. Jadi, benarkah manusia tidak sendirian di semesta mahaluas ini?

Rohmat Haryadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar